Home / Kesehatan

Kamis, 16 April 2020 - 11:42 WIB

Studi Harvard : Social Distancing Diperlukan Hingga 2022 untuk Setop Virus Corona

Harvard University - istimewa

Harvard University - istimewa

Jakarta – Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti Harvard menyatakan bahwa beberapa bentuk social distancing mungkin diperlukan hingga 2022 untuk menghentikan penyebaran virus corona dan mencegah rumah sakit kewalahan.

Studi pemodelan COVID-19 tersebut memperingatkan bahwa periode social distancing sporadis diperlukan hingga 2 tahun mendatang untuk mencegah terjadinya lonjakan baru terkait infeksi virus corona baru ini.

Para peneliti memperingatkan bahwa menghilangkan langkah-langkah social distancing secara sekaligus hanya akan menunda puncak penyebaran virus dan dapat membuat lonjakan kedua infeksi yang lebih parah.

Mereka menyebut bahwa satu periode tindakan jarak sosial seperti yang banyak dilakukan di berbagai negara saat ini tidak akan cukup. Misalnya, implementasi social distancing di Amerika Serikat yang akan berakhir pada 30 April.

Baca  Driver Ojol Mengeluh Kena Dampak Corona, Jokowi: Tak Perlu Khawatir

Banyak ahli di berbagai negara juga menyatakan bahwa diperlukan langkah-langkah pencegahan melalui social distancing berkelanjutan untuk dapat menghentikan pandemi virus corona baru ini.

Adapun, studi dari Harvard tersebut mengatakan sejumlah faktor yang memiliki peranan penting dalam lintasan virus corona baru selama beberapa tahun ke depan, termasuk faktor musiman dan tingkat kekebalan.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah perilah yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh para pejabat kesehatan dan anggota parlemen serta para peneliti ketika mereka bekerja untuk memutuskan kapan implementasi lockdown dan social distancing perlu dicabut.

Para pakar kesehatan berpendapat bahwa COVID-19 bisa jadi tidak mengikuti jenis virus terdekatnya yang dapat diberantas dengan tindakan intensif kesehatan masyarakat. Justru, virus ini sangat mungkin terjadi secara musiman seperti pandemi influenza.

Baca  Begini Cara Orang Beriman Menghadapi Wabah Penyakit Menurut UAS

Para peneliti dari T.H. University Harvard Chan School of Public Health menggunakan data musiman dari virus corona manusia lain yang diketahui. Mereka mengasumsikan beberapa kekebalan silang di antaranya untuk membangun model interaksi tahunan.

Mereka menggunakan model untuk menyelediki berapa lama masyarakat perlua mengambil langkah-langkah social distancing. Berdasarkan simulasi, para peneliti mengatakan faktor kuncinya adalah tingkat kekebalan virus.

Para peneliti menyebut di bawah semua skenario yang disimulasikan, termasuk social distancing satu periode dan beberapa implementasi waktu interval, infeksi akan kembali melonjak ketika langkah tersebut tidak dilakukan.

Model simulasi menunjukkan bahwa ketika jarak sosial tidak dilakukan, virus akan meningkat pada musim gugur. Wabah musim dingin juga dapat terjadi, tumpang tindih dengan musim flu yang dapat menyebabkan rumah sakit membludak pasien.

Baca  Dokter Klaim Virus Corona COVID-19 Menular Lewat Kentut

Skenario lain menunjukkan keberlangsungan kasus COVID-19 dapat terjadi hingga 2025 mendatang. Peneliti mengatakan bahwa perawatan baru dapat meringankan kebutuhan social distancing yang tetap. Akan tetapi tetap perlu dipertahankan setidaknya hingga 2022.

“Tujuan kami dalam memodelkan kebijakan semacam ini bukan untuk menakuti tetapi untuk mengidentifikasi kemungkinan lintasan epidemi di bawah pendekatan alternatif,” tulis para peneliti tersebut.

“Intervensi tambahan, termasuk kapasitas perawatan perlu di perluas dan terapi yang efektif harus digencarkan. Ini akan meningkatkan keberhasilan upaya pemberantasan dan memperoleh kekebalan kelompok,” pungkas mereka. (bisnis24)

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Bagaimana Virus Corona Sampai di Indonesia? Ahli Menjelaskan Begini

Kesehatan

Jangan Panik! BNPB: Akan Ada 40 Ribu Penduduk Positif Corona Karena Jumlah Tes Meningkat

Kesehatan

Jubir Penanganan Corona; 227 Spesimen Diduga Terjangkit, 13 Diduga Kuat Positif!
harga rapid tes corona

Kesehatan

Fadli Zon; Agar Masyarakat Tahu, Prabowo Bilang Harga Alat Rapid Corona Test Hanya 3,5 Dollar

Kesehatan

214 Pedagang Pasar Tradisional Positif COVID-19

Global

Respons Tiongkok soal Rencana Indonesia Setop Impor

Kesehatan

3 Tips Aman Jalani Puasa Jika Alami Gejala Ringan Corona

Kesehatan

Tak Mau Tangani Pasien Corona, 109 Nakes di RSUD Ogan Ilir Dipecat