Home / Politik

Kamis, 7 Mei 2020 - 22:09 WIB

MUI: Terbuka Kemungkinan Covid-19 Bagian Konspirasi Politik AS-China

Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China terus menegang hingga saat ini, dan berdampak pada negara-negara yang menjadi mitra strategis kedua negara superpower tersebut.

Bahkan, perang dagang tersebut disebut-sebut berbuntut hingga perang biologis atau bio war. Termasuk soal virus corona baru atau Covid-19 yang telah menjadi pandemik ini disebut-sebut masih bagian dari konspirasi politik dan keamanan AS dan China.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhyiddin Junaidi saat mengisi diskusi daring bertajuk “Pandemi Covid-19 dan Konspirasi Internasional”, mengamini bahwa masih terbuka kemungkinan jika wabah Covid-19 ini masih bagian dari konspirasi politik AS-China.

Hal ini diperkuat dengan sejumlah pernyataan para ahli dan pakar virologi yang menyebut ada keanehan pada Covid-19.
“Kita tahu, kita percaya, bahwa Covid-19 makhluk Allah. Tapi para pakar yang saya baca, baik itu dari Jepang, Rusia dan dari beberapa negara maju lainnya mengatakan ada keanehan dalam Covid-19 ini,” ujar Muhyiddin Junaidi, Kamis (7/5).
Dia menambahkan, keanehan itu sedang diselidiki di Lab P4 yang berada di Institute Virologi Wuhan, China. Diketahui, Lab P4 ini merupakan satu-satunya laboratorium di Asia yang khusus mempelajari dan meneliti virus paling berbahaya di Dunia.
Bahkan Lab itu sering dikenal sebagai “Kapal Induk untuk Riset Super Virus”.

Baca  Jika Lockdown Dilakukan, Bagaimana Kondisi Anggaran?

“Lab Wuhan P4 semua data-data sekarang ini sedang di kolektif dan hal terlengkap. Maka kalau sudah ditemukan ini akan lebih ngeri lagi,” tuturnya.

Muhyiddin yang juga master pengajar bahasa Inggris dari Universitas South Pacific, Fiji itu mempercayai apa yang telah diungkapkan oleh sejumlah pakar dan ahli virologi terkait kejanggalan Covid-19 itu. Sebab, pakar dan ahli lantaran mereka dianggap menguasai di bidang yang digelutinya tersebut.

Baca  FKM UI Ungkap Corona Masuk RI Sejak Januari, Pemerintah: Kenapa Baru Bilang?

Kata Muhyiddin, salah satu pakar virologi menyebut Covid-19 kerap berubah-ubah karakteristik antar negara satu dengan yang lainnya. Sesuai iklim dan suhu di negara-negara yang terserang wabah Covid-19.

“Saya percaya yang ditulis oleh para pakar, yaitu ada nanti kebenarannya. Karena apa karena ternyata Covid-19 ini terus mengalami perubahan. Ke Eropa, Asia, bentuknya (Covid-19) juga berubah,” katanya.

“Jadi ini memang bukan sembarang rekayasa, bukan sembarang penyakit. Ini penyakit yang menurut para ahli, kalau ahli Virologi dari Rusia mengatakan ‘hanya orang gila yang menambah kekuatan daya ledak Covid-19 yang pada awalnya biasa-biasa menjadi super biasa’. Hanya orang gila yang melakukan itu,” imbuhnya menegaskan.

Baca  Putrinya Diolok-Olok, Pihak AHY Siap Laporkan Denny Siregar ke Bareskrim Polri

Lebih lanjut, dia menyarankan agar Pemerintah Indonesia tidak terlibat konflik perang dagang antara AS dan China tersebut. Sebaiknya, Indonesia menjadi negara yang independen tidak berpihak kepada kedua negara superpower tersebut. Meskipun, Indonesia dekat dengan China secara bilateral.

Hal ini antara lain bertujuan supaya tidak ada dampak serius terhadap masyarakat Indonesia akibat ketegangan AS versus China itu.

“Nah kalau menurut saya kita harus berada di wasathiyah (pertengahan). Kita harus membangun namanya proxy aliansi negara-negara Islam dan negara berkembang,” demikian Muhyiddin Junaidi. (Rmol)

Share :

Baca Juga

Politik

Fadli Zon Skakmat Menteri Jokowi: Jangan Kebanyakan Tidur!

Nasional

Desak Anies Baswedan Dimakzulkan, Satyo Purwanto Sebut Massa Kesurupan Atas Dasar Kebencian

Politik

Fadli Zon Heran Tanda Tangan Jokowi Kok Bisa Kerek Harga Motor Rp2,5 M

Politik

Pandemi, PDIP Akan Tetap Gelar Doa Bersama di Makam Bung Karno

Politik

Nasib Honorer, Mardani Ali Sera: Presiden yang Mesti Ambil Tanggung Jawab

Politik

Gus Yaqut: Bubarkan Saja Stafsus Milenial, Tidak Berfaedah

Politik

Survei Penanganan Covid-19: Warga Lebih Puas Kerja Pemprov DKI Dibanding Pemerintah Pusat

Politik

Iuran BPJS Dinaikkan, Rocky Gerung: Jokowi Bukan Pemimpim Dalam Keadaan Krisis