Home / Islam

Rabu, 15 April 2020 - 05:06 WIB

Masyarakat Geger! Santri Berkopyah NU Baca Puisi ‘Jumat Agung’, Prof Rochmat: Ini Menginjak-injak NU

Akidah – Dua hari, sejak Sabtu dan Minggu (12/4/2020) viral di media sosial nahdliyin, sejumlah santri berbaju putih – yang laki-laki menggunakan kopyah NU – sedang asyik membacakan puisi bertajuk ‘Jumat Agung’, karya Ulil Abshar Abdalla.

Semua tahu, Jumat Agung , adalah hari Jumat, tiga hari menjelang Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus yang wafat di Bukit Golgota, dikenal sebagai bukit Calvary, tempat Yesus disalibkan.

“Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku. Ia telah menebusku dari iman, yang jumawa dan tinggi hati. Ia membuatku cinta pada yang dinista!,” demikian penggalan akhir puisi sebanyak 1296 karakter ini.

Sejumlah kiai dan akademisi NU pun, melempar komentar. Salah seorang dosen di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, mempertanyakan urgensi santri dengan kopyah NU membaca puisi itu.

“Ini puisi lama, sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, hari ini sengaja dipoles untuk ‘menjual’ NU. Yang ditampilkan santri dengan kopyah NU. Ini pertanda liberalisasi di tubuh NU begitu jahat,” demikian disampaikan kepada duta.co, Minggu (12/4/2020).

Prof Dr H Rochmat Wahab, mantan Ketua PWNU DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), mengaku prihatin dengan kelompok liberal yang begitu massif merusak generasi nahdliyin.

“Kasihan anak-anak kita. Puisi itu sangat terkait dengan Hari Wafat Yesus Kristus. Isinya sangat kental dengan urusan aqidah. Siapa pun boleh membuat puisi. Silakan. Sah-sah saja, baik orang yang beragama Kristen, Katolik, Islam atau lainnya. Tetapi, setiap penulis mesti bertanggungjawab dengan apa yang tulisannya,” tegas Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu (12/4/2020).

Baca  Bahas Dua Fatwa tentang Corona, MUI Libatkan Dua Profesor Ahli Kesehatan

Menurut Prof Rochmat, yang menjadi masalah dari puisi ‘Jumat Agung’ itu, adalah diviralkan dengan menggunakan sejumlah remaja laki-laki dan perempuan dengan kopyah berlogo NU. Penampilan ini secara langsung atau tidak langsung, melibatkan NU, seakan-akan secara institusional, NU ikut memback-up.

“Dan secara aqidah, jelas sekali materi dalam puisi yang dibaca itu, tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU dan para masyayikh,” tegas Prof Rochmat.

Prof Rochmat berharap agar generasi santri tidak dirusak dengan pikiran-pikiran liberal. NU jangan dipermainkan seperti itu. Para muassis NU bisa menangis ketika menyaksikan semua ini, betapa kita membiarkan liberalisasi memporak-porandakan NU.

“Silakan (kalau) di luar, jangan pakai institusi NU. Mengapa harus memakai baju muslim dan perkopyah berlogo NU? Ini sama saja menginjak-injak Islam dan NU. Mestinya ini tidak harus terjadi. Silakan bepuisi, lebih (gila) liberal lagi tidak masalah. Tetapi, jangan dan TIDAK BOLEH menggunakan simbol NU,” urai Prof Rochmat dengan nada serius.

Jika yang membacakan itu (benar) santri dan santriwati, lanjut Prof Rochmat, maka sangat disesalkan terhadap orang atau institusi yang harus bertanggung jawab karena mengkoordinasikan pembacaan puisi ini dan pembuatan videonya. “Karena kegiatan ini secara langsung atau tidak langsung melakukan pemurtadan para santri. Yang sebenarnya harus dihindari,” jelasnya.

Baca  Qori dan Imam Terkenal Syeikh Abu Bakr al-Shatri Terinfeksi Virus Corona COVID-19

Masih menurut Prof Rochmat, sangat disayangkan belakangan ini, bahwa, dalam menafsirkan toleransi sejumlah ummat nahdliyin aktivitasnya sudah merusak aqidah. Kegiatan-kegiatannya sangat meresahkan warga NU, khususnya dan ummat Islam pada umumnya.

“Implementasi toleransi harus jelas mengikuti rambu yang ada, terutama dalam kehidupan muamalah. Banyak yang bisa dilakukan tanpa merusak aqidah, seperti membesuk orang sakit, takziah, menghadiri undangan resepsi pernikahan dll,” tambahnya.

Untuk itu, lanjutya, memperhatikan kegaduhan belakangan ini, maka diharapkan sekali PBNU segera mengambil tindakan untuk melakukan investigasi dan penjernihan serta penyelesaian dengan baik terhadap penampilan itu.

“Sehingga bisa menenangkan kehidupan warga NU dan umat Islam. Ingat bahwa penampilan ini sudah mengusik dan menimbulkan fitnah,” pungkasnya.

Ya! Pusi ‘Jumat Agung’ ini, memang bukan barang baru. Konon sudah sejak tahun 2015, dibaca setiap tahu. Dan tidak pernah diributkan. Tetapi, kali ini, tampilannya dibuat serem, dan ‘menggugah’ perasaan kiai-kiai NU.

Isinya seperti yang diunggah akun youtube @Willy Prince. Sabtu, 11 Apr 2020 Willy memasang video itu di laman youtubenya. Sampai Minggu (12/4) masih dilihat beberapa orang, 29 x ditonton. Tetapi, potongan video itu sudah menyebar luas di media sosial warga NU. Komentar pun berdatangan. Baik yang mendukung mau pun yang prihatin betapa NU sudah ‘dijual’ murah. (mky)

Baca  UAS: Sudah Lebih dari Sebulan Saya Isolasi Diri. Kenapa?


Berikut Puisi ‘Jumat Agung’ Karya Ulil Abshar Abdalla:

Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yang nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.

Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.

Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista! (*)

Share :

Baca Juga

Islam

Kisah Sedih, Makan Malam Terakhir Seorang Ibu dengan Anaknya

Islam

Ikuti Imbauan Ma’ruf, Menag Setuju Zakat Ditunaikan Sebelum Ramadan, Imbas Corona

Islam

Kabar Sedih dari Sandiaga: WNI Pengurus Masjid di New York Meninggal karena COVID-19

Islam

Rahasiakan Tes Swab, Pasien Positif Covid-19 Malah Shalat Tarawih Berjemaah, Warga Tak Ada yang Tahu
hukum tiktok menurut UAS1

Islam

Hukum Tik Tok dalam Islam; Ini Jawaban UAS

Islam

KH. Marfu Muhyidin Ilyas, Mengungkap Prediksi Corona Berdasarkan Perspektif al-Quran

Islam

MUI: Meskipun Pandemi Corona Puasa Ramadhan Tak Bisa Diganti Fidiah!

Islam

Baru! Begini Cara Urus Jenazah Seorang Muslim Pasien Corona Menurut Fatwa MUI