Home / Nasional

Jumat, 24 April 2020 - 18:45 WIB

Kritik Penanganan Corona, Faisal Basri: Komandannya Luhut atau Siapa?

Jakarta – Ekonom senior Faisal Basri kembali menyinggung nama Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Sebelumnya Faisal pernah menyebut Luhut lebih berbahaya dari COVID-19, lewat akun Twitternya.

Kali ini, Faisal menilai penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia tidak jelas sebab tidak satu suara. Untuk itu dia mempertanyakan siapa yang jadi komandannya, apakah Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, atau siapa?

“Penanganan pandeminya nggak jelas, siapa yang jadi komandan? Luhut Panjaitan atau Ketua Satgas atau siapa? setiap orang bicara,” kata dia dalam diskusi online, Jumat (24/4/2020).

Baca  Dipojokkan Ade Armando, Din Syamsuddin: Semoga Beliau Kembali Ke Jalan yang BenarĀ 

Bahkan menurutnya penanganan COVID-19 di Indonesia tidak karu-karuan, mulai dari kebijakan mudik hingga kedisiplinan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Saya melihat juga untuk Indonesia khususnya, sebetulnya kita amat sulit memprediksi Indonesia karena penanganan COVID-19-nya nggak karu-karuan. Kita tidak pernah tahu, serba tanggung, mudik sudah jutaan keluar baru dilarang, PSBB di Jakarta kita lihat, kemarin saya kebetulan wajib ke rumah orang tua macet di Pancoran seperti tidak ada apa-apa,” jelasnya.

Baca  Menko Luhut Sebut Penting Bangun Hubungan Ekonomi dengan China

Ketidakpastian itu pun membuat ongkos untuk menangani pandemi COVID-19 pun semakin besar. Sedangkan Indonesia tidak punya cukup kemampuan untuk menahan agar laju pertumbuhan ekonomi tak merosot tajam.

“Jadi kita tidak pernah tahu sampai puncaknya itu kapan. Dan ongkosnya semakin besar. Dan kita tidak punya kemampuan untuk mem-backup ekonomi kita supaya tidak turun terlalu tajam,” jelasnya.

Bahkan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang diperlebar oleh pemerintah pun tidak otomatis membuat pemerintah punya dana yang cukup untuk memberi stimulus bagi yang terdampak virus Corona.

Baca  SBY: Pemerintah Jangan Timbulkan Antipati Rakyat Soal Corona

“Jangan dilihat defisit APBN pemerintah yang naik 5,8% itu sebagai suatu stimulus, tidak. Defisit 5,8% itu lebih disebabkan karena penerimaannya anjlok. Jadi peningkatan belanja itu cuma Rp 73,4 triliun. Penerimaan negaranya anjlok Rp 472 triliun. Jadi praktis tidak ada stimulus sebetulnya kalau dilihat dari magnitude tambahan dari APBN itu,” tambahnya. (toy/hns)

Share :

Baca Juga

Rincian THR PNS Eselon III ke Bawah

Nasional

Ini Rincian THR PNS Eselon III ke Bawah Setelah Dipotong Beberapa Persen

Nasional

Minyak Dunia Jeblok, Luhut Belum Pertimbangkan Turunkan Harga BBM

Nasional

Kisah Lucu dan Mengharukan, ‘Saya Nggak Mudik, Hanya Pulang Kampung’

Nasional

Kepastian Jakarta Lockdown Dibahas Hari Ini di Kantor Luhut

Nasional

Heboh! IDI Sebut Angka Kematian Akibat Corona di Indonesia Capai 1.000

Nasional

Pengamat Politik Sebut, Manuver Paloh Wujud Kekecewaan Atas Hal-hal Ini
KSPI akan Gugat Perpres

Nasional

Anggap Akal-akalan Pemerintah, KSPI akan Gugat Perpres Kenaikan Iuran BPJS

Nasional

Soal Habib Rizieq, Politisi PDIP: Pak Mahfud MD Jangan Asal Ngomong Dong