Home / Politik

Rabu, 29 April 2020 - 22:07 WIB

Kode Keras JK untuk Jokowi: Awas, Krisis Corona Lebih Parah dari Krisis 98

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla terang-terangan mengkritik soal kesiapan pemerintah dalam menangani wabah corona. Menurut JK, aturan penanganan corona saat ini masih simpang siur. Padahal, wabah ini sangat rentan menimbulkan krisis ekonomi. Tak tanggung-tanggung, JK menyebut dampak ekonomi yang ditimbulkan pandemi corona bahkan bisa lebih parah dari krisis ekonomi 1998.

“Kode keras” itu disampaikan JK dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia TV. Dalam wawancara yang juga ditayangkan CNNIndonesia.com, Rabu (29/4/2020) tersebut, JK dengan tegas mengkritik langkah pemerintah yang dinilainya belum tegas menjalankan PSBB. Tidak ada sanksi tegas PSBB, tutur JK, membuatnya kurang efektif.

“Secara aturan dan perintah, aturannya juga masih simpang siur, kadang-kadang jadi tidak jelas, harus terkoordinasi lagi. Ada tiga hal pokok: satu, waktu terbatas, karena semakin lama dan waktu kita terbatas. Selanjutnya ada koordinasi. Walau ada satgas dan gugus tugas, tapi tidak mudah melakukannya,” ujar JK.

Baca  Kordinator Bela Islam Menolak Ahok sebagai Kepala Otoritas Ibukota Negara

“Kemudian yang terakhir itu logistik. Kalau labnya kurang, orang-orangnya kurang, rumah sakit tidak mencukupi, APD kurang, obat-obat kurang, jadi susah dengan mempertimbangkan waktu, logistik, koordinasi, dan orang-orang yang memiliki keahlian.”

Virus corona, menurut JK, sangat unik karena belum ada pengalaman sebelumnya. Berbeda dengan kasus flu burung yang pernah terjadi saat JK masih menjabat Wapres era SBY. Saat itu, JK mengaku penanganannya jauh lebih mudah.

“Kalau dulu flu burung, sumbernya dari ayam, ayam yang unsur ada merahnya kita musnahkan. Pemerintah bayar dan ini tidak, saat itu saya yang pimpin. Kalau ini obatnya tidak tahu, vaksinnya juga tidak tahu,” katanya.

Baca  Adamsyah: Dulu Zero Corona, IMF Buka Pinjaman untuk Corona, Langsung Ngaku Ada

Terkait Bantuan Langsung Tunai (BLT), JK juga meminta agar sesegera mungkin menyiapkannya. “Ketika terlambat maka ratusan orang meninggal,” JK mengingatkan.

Di sisi lain, JK melihat pemerintah Indonesia harus mampu mengatasi persoalan ini. Termasuk apabila harus meminjam dana dari luar negeri. Bagi JK, negara kaya seperti di Timur Tengah saja mau meminjam, kenapa Indonesia harus malu-malu?

Terlebih lagi, krisis corona saat ini wajib mempertaruhkan segalanya, berapapun ongkosnya. Tak lain, sambung JK, adalah untuk menghindari adanya krisis ekonomi sosial yang bisa lebih parah dari krisis 1998 silam.

Baca  Ditanya Kesiapan Jadi Capres 2024, Ini Jawaban Susi Pudjiastuti

“Ini bisa lebih buruk dari ’98. Tahun ’98 itu cuma tiga negara, tapi yang kena itu yang impor bahan baku. Sedangkan yang ekspor bahan baku senang. Krisis itu Sulawesi bisa untung. Sumatera itu karet justru untung besar, hanya Jakarta saja yang kena sebetulnya waktu itu. Sekarang seluruh Indonesia khawatir jangan-jangan dia kena,” katanya.

Lalu, apa yang harus dilakukan Presiden Jokowi? “Disiplin dan ketegasan. Berkali-kali saya katakan, menjalankan instruksi, bukan mengimbau. Ini kan pemerintah Republik Indonesia bukan pengimbau Republik Indonesia. Tegas dan disiplin, di samping kita harus pencegahan,” ujar JK. (BL)

Share :

Baca Juga

PDIP Bela Jokowi soal Bagi Sembako

Politik

PDIP Bela Jokowi soal Bagi Sembako: Ada Kemiripan dengan Umar Bin Khattab

Politik

PKS, Demokrat, dan PAN Desak Jokowi Batalkan Kenaikan BPJS

Politik

Pramono Tak Ingin Jokowi Senasib Gus Dur, Arief Poyuono Bilang Seperti Ini

Politik

Kordinator Bela Islam Menolak Ahok sebagai Kepala Otoritas Ibukota Negara

Politik

Damai Hari Lubis: Harusnya yang Dicopot Ahok, Bukan Refly Harun!

Politik

Ingin Amien Rais di Barisan, Bima Arya: Jelas Enggak Main-main Ya

Politik

Terima Kasih Jokowi, Kata Survei: Pemerintah Terbaik dan Cepat Tanggap Tangani Covid-19

Politik

Iuran BPJS Naik Lagi, Rocky Gerung: Istana Semakin Arogan!