Home / Kesehatan

Kamis, 16 April 2020 - 02:56 WIB

AS Curiga soal Jumlah Kasus Corona di RI, Ini Respon Ahli Epidemiologi

Jakarta – Ahli epidemiologi Dicky Budiman memaklumi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) yang curiga dengan jumlah kasus virus corona Covid-19 di Indonesia.

Sebab, dia menduga jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan oleh pemerintah saat ini sebanyak 5.136 kasus masih jauh dari yang diproyeksikan oleh epidemiolog.

“Memang saya setuju bahwa di Indonesia ada under detected, jadi data sesungguhnya yang terjadi di masyarakat atau di populasi memang belum terdeteksi. Artinya yang dilaporkan masih jauh dari apa yang epidemiolog proyeksi,” ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).

Dicky mengatakan jumlah kasus di Indonesia dicurigai muncul karena angka kematian cukup tinggi. Selain itu, jumlah kasus dan angka kematian itu bukan terjadi pada tahap awal fase epidemi, melainkan sudah beranjak ke kurva naik.

Baca  Pasien Terjangkit Corona Tidak Ditanggung BPJS Ya...

Lebih lanjut, Dicky mengatakan epidemiolog di London, Inggris, mengkalkulasikan setiap satu kematian terdapat 1.000 kasus positif COvid-19. Sehingga, dia mengatakan ada sekitar 496 ribu kasus di Indonesia jika mengacu pada data jumlah kematian di Indonesia sebanyak 469 kematian pada 15 April 2020.

“Dan itu menurut saya sangat logis walaupun saya di angka 100. Karena merujuk pada data-data di beberapa epicenter. Jadi kalau saya merujuknya dengan 469 kasus meninggal itu kurang lebih di populasi itu ada 46.900 kurang lebih kasus,” ujarnya.

Di sisi lain, Dicky mengatakan perbedaan jumlah kasus di Indonesia yang sangat besar dengan yang diproyeksikan oleh epidemiolog karena minimnya tes. Dia berkata cakupan tes di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN.

Baca  Guru Besar Unair: Awas, Kucing Rawan Tertular Corona

“Kita hanya menang dari Bangladesh kalau tidak salah dalam posisi terakhir. Artinya kita masih jauh dari proporsi ideal,” ujar Dicky.

Dicky menuturkan proporsi ideal tes Covid-19 di Indonesia adalah 1.000 tes per 1 juta penduduk. Jika tidak, dia mengatakan PSBB tidak akan signifikan. Sebab, dia berkata strategi utama penanganan pendemi adalah tes.

“Jadi tes itu sangat vital. Kemudian diikuti dengan pelacakan dengan kasus kontak. Ini pun penting sekali. Dan dua ini saja saya melihat belum maksimal dilakukan. Apalagi peta sebaran sudah ada di mana-mana,” ujarnya.

Baca  Siti Fadilah Supari: Kalau Ada Komersialisasi Vaksin, Maka Pasti Ada Pandemi Lagi

Selain itu, Dicky menambahkan perawatan dan isolasi kasus Covid-19 sangat penting dalam strategi utama pendemi. Pencegahan bisa dilakukan jika tes, pelacakan, perawatan, dan isolasi sudah dilakukan.

“Kalau yang utama tidak dilakukan, kita akan sulit membuat kurva menjadi landai, akan naik terus,” ujar Dicky.

Dicky mengakui jumlah kasus yang diduga tidak terdeteksi sejatinya tidak hanya terjadi di Indonesia. Dia mengatakan hal serupa juga terjadi di AS meski tidak sebesar yang terjadi di Indonesia.

Lebih dari itu, Dicky mendesak pemerintah pusat untuk segera membuat sinkron data dengan daerah. Sebab, dia berkata perbedaan data pusat dan daerah telah membuat kebingungan bagi epidemolog dalam membuat analisa.

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Sekjen PBB: Hanya Vaksin Corona yang Bisa Bikin Dunia Kembali Normal

Global

Takut Dijangkiti Virus Corona, Nelayan Tolak Karantina WNI di Natuna

Kesehatan

Khasiat Dasyat Air Rendaman Kurma Atau Kismis (Nabeez)

Kesehatan

Hebat! Wardah Kosmetik Sumbang Rp 40 M untuk Tangani Corona

Kesehatan

Siapa Pasien Pertama Corona? Ini Jawaban Ahli

Kesehatan

Mahfud MD: Diprediksi Wabah Corona Berakhir di Bulan Juli

Kesehatan

Corona di RI Diprediksi Tak Mungkin Selesai Tahun Ini, Karena PSBB Tak Efektif

Kesehatan

Kabar Buruk! 100 Karyawan Sampoerna Surabaya Positif Covid-19 Hasil Rapid Test