Petugas mengamati alat seismograf. (ilustrasi)

BERITAWAJO.COM – Tiga alat pencatat gempa bumi (seismograf) di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut hilang. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani mengatakan, kejadian hilang atau rusaknya seismograf memang sudah cukup sering terjadi di Gunung Papandayan.

Menurut dia, itu disebabkan oleh aksi vandalisme pihak yang tak mau bertanggung jawab. “Itu sudah dari tahun kemarin pernah hilang, tahun sebelumnya hilang juga. Yang sering kejadian itu di Papandayan,” kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (19/3).

Ia mengatakan, umumnya bagian yang diambil dari seismograf adalah solar panel dan accu. Namun, akibat bagian yang hilang itu seismograf tidak berfungsi seluruhnya.

Menurut dia, untuk pengadaan satu unit seismograf diperlukan biaya sekitar Rp 300-400 juta. Namun, jika yang hilang hanya solar panel atau accu, biaya penggantian akan lebih murah.

Kasbani mengatakan, ke depan untuk wilayah-wilayah yang rawan hilang, pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau aparat setempat untuk melakukan pemantauan pada alat-alat itu. Pasalnya, keberadaan seismograf sangat dibutuhkan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung berapi.

“Itu kan mata telinga kita juga, kalau terjadi sesuatu, kita juga jadi tidak tahu. Yang terkena jadinya masyarakat juga,” kata dia.

Ia menambahkan, PVMBG akan segera menyiapkan dan menganggarkan biaya pergantian untuk seismograf yang hilang. Namun kendalanya, tak hanya satu gunung yang membutuhkan tambahan seismograf, melainkan juga gunung berapi lainnya yang ada di wilayah Indonesia. Karena itu, jika sudah terpasang, ia meminta masyarakat untuk itu menjaga peralatan tersebut.

Untuk sementara, menurut dia, sisa satu seismograf di Gunung Papandaya masih cukup untuk melakukan pemantauan, setidaknya selama status gunung masih normal. Lagipula, pemantauan di Papandayan tak hanya menggunakan seismograf, tapi juga dengan mengukur suhu udara di kawah gunung. Jika ada peningkatan, PVMBG akan segera memasang penggantinya untuk membantu pemantauan.

“Untuk sementara ini relatif aman. Tapi jangan sampai yang satu itu hilang. Repot juga nanti,” kata dia.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Dadi Djakaria mengimbau, masyarakat ikut berpartisipasi dalam menjaga seismograf. Menurut dia, jika terus hilang, pemantauan akan terganggu.

“Di Garut kan ada Gunung Guntur dan Papandayan yang aktif. Kita mengajak melalui partisipasi masyarakat untuk sama-sama menjaga alat-alat yang ada, karena petugas dari PVMBG juga terbatas, tidak mungkin setiap waktu memantau alat itu di gunung,” kata dia.

Menurut dia, BPBD sudah sering melakukan sosialisasi kepada masyasakat terkait mitigasi bencana, termasuk mengajak masyarakat menjaga alat-alat yang berfungsi sebagai pendeteksi dini. Namun, masih ada saja masyarakat yang tak peduli. Padahal, akibat ulah sebagian kecil masyarakat itu dampaknya akan berpengaruh sangat luas.

Dadi mengatakan, untuk pergantian alat itu merupakan tanggung jawab Badan Geogi, Kementerian ESDM, dalam hal ini PVMBG. Pasalnya, anggaran BPBD digunakan untuk kebutuhan lainnya.

“Kita harapkan saja gunung tetap normal. Namun, kesiapsiagaan tetap harus dijaga. Pasalnya gunung itu masih aktif hingga saat ini dan ada kemungkinan untuk erupsi,” kata dia.

Sebelumnya, petugas pemantau Gunung Papandayan, Momon mengatakan, tiga alat yang sebelumnya dipasang di sekitar gunung telah hilang dicuri orang. Alhasil, saat ini hanya tersisa satu seismograf yang berada di Gunung Papandayan.

Menurut dia, terakhir kali laporan hilangnya seismograf itu terjadi pada sekitar Januari 2019. “Masih satu unit yang beroperasi. Terakhir itu hilang bulan januari kalau gak salah,” katanya

Demikian berita ini dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

This post was last modified on 20 Maret 2019 12:02 pm